Kekerasan Terhadap Perempuan Meningkat Dua Kali Lipat


JAKARTA,Jumlah tindak kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh lembaga pengada layanan meningkat setiap tahun (2001-2008). Tahun 2008 terjadi peningkatan jumlah kekerasan lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2007 (25.522 kasus). Peningkatannya mencapai 213 persen menjadi 54.425 kasus.

Peningkatan jumlah kasus diperkirakan karena meningkatnya kemudahan akses ke data Pengadilan Agama sebagai implementasi dari Keputusan Ketua Mahkamah Agung tentang Keterbukaan Informasi di lingkungan pengadilan.
"Di tahun 2008, kekerasan ekonomi yang terj adi di dalam rumah tangga dan kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan komunitas merupakan dua jenis kekerasan yang paling besar dialami oleh perempuan," papar Ketua Sub Komisi Pemantauan Komnas Perempuan Arimbi Heroepoetri saat peluncuran Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan tahun 2008 di Jakarta, Sabtu (7/3).
Peluncuran Catatan Tahunan tersebut dalam rangka memperingati Hari Perempuan International yang jatuh setiap tanggal 8 Maret.
Kekerasan ekonomi dan kekerasan seksual cenderung konsisten dari tahun ke tahun sejak tahun 2006-2008. Pada tahun 2008, mayoritas dari perempuan korban kekerasan ekonomi dalam rumah tangga adalah para istri, yaitu sebanyak 6.800 kasus (dari jumlah 46.884 kasus kekerasan terhadap istri). Sedangkan mayoritas korban kekerasan seksual di komunitas adalah perempuan di bawah umur, yaitu sebanyak 1.870 kasus (dari 4.875 kasus).
Komisioner Komnas Perempuan Azriana menyatakan, kekerasan ekonomi bentuknya antara lain tindakan yang menyebabkan ketergantungan ekonomi terhadap salah satu pihak, penelantaran dan menutup kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan.
"Untuk kekerasan seksual, kita hanya punya KUHP, itu pun hanya mengatur soal perkosaan dan pencabulan. Mayoritas kekerasan seksual ini terjadi pada anak perempuan dan kami be rkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan. Ini adalah mandat yang berbeda: ada Komisi Perlindungan Anak Indonesia dan ada Komnas Perempuan," kata Azriana.
Empat kategori perempuan korban kekerasan yang menuntut perhatian khusus pada tahun ini adalah perempuan minoritas agama, perempuan miskin, perempuan pekerja hiburan, dan perempuan pembela hak asasi manusia.
Sementara empat pelaku kekerasan terhadap perempuan yang menuntut pemantauan lebih lanjut adalah pejabat publik, kepala daerah, anggot a legislatif dan pendidik.

Kompas

Link Exchange

Photobucket

Link Partner

Geovisite

  © Blogger template Ade S by dunia-blogger.blogspot.com 2008

Back to TOP